Skip to main content

Pilkada Agam dan Ego Sektoral


Oleh : Rio Friyadi

"Parang kampuang, tagak dikampuang". Sebuah frasa yang cukup akrab ditelinga masyarakat pada momen Pilkada ini. Terlebih masyarakat Agam. Hingga Pilkada berakhir, frasa ini akan selalu disemarakkan terutaman oleh timses yang ingin menyasar segmen masyarakat yang memiliki ego sektoral yang tinggi.

 

Frasa parang kampuang, tagak dikampuang merupakan ajakan untuk berdiri diatas kampung halaman sendiri saat terjadi pertarungan. Pada momen Pilkada ini diartikan sebagai ajang memilih kandidat yang berasal dari asal masyarakat itu sendiri. Setidaknya ada dua basis sektoral, pertama basis agam barat dan timur dan kedua basis Kecamatan.

 

Salahkah frasa tersebut? Ada salahnya dan ada pula sisi yang dapat dibenarkan. Salahnya cukup jelas, bahwa Pilkada Agam adalah momen mencari pemimpin yang bertanggungjawab kepada Kabupaten Agam secara keseluruhan. Maka orientasi utama dalam memilih pemimpin adalah siapa yang terbaik di Agam, jadi mau di Barat maupun timur atau dari Kecamatan manapun tak jadi soal yang penting dia paling berkapasitas memimpin Agam.

 

Namun, tak bisa dipungkiri ego sektoral sulit dihilangkan. Ambisi untuk mendudukkan putera daerahnya sulit dihindari terjadi di tengah masyarakat. Maka hal ini dimanfaatkan oleh Timses untuk membangun isu ini agar kandidatnya mendapatkan kemenangan telak di daerah asal kandidatnya. Di Agam, setidaknya isu sektoral cukup kuat terjadi di Baso, Tanjung Raya dan Lubuk Basung.

 

Isu Agam Barat dan Agam Timur sangat fenomenal di setiap Pilkada Agam. Karna itulah ada semacam ketentuan tak tertulis bahwa dalam pasangan calon harus diisi dengan kombinasi calon dari Barat dan Timur. Memang, secara kultur dan geografis terjadi perbedaan antara barat dan timur. Hal ini jugalah yang memicu wacana pemekaran Kabupaten Agam yang saat ini masih mandek karna adanya moratorium.

 

Walaupun akan menguntungkan beberapa paslon, semestinya ego sektoral dalam memilih Bupati dan Wakil Bupati Agam diminimalisir pada Pilkada tahun ini. Karana bagaimanapun tetap isu ini sangat kontraproduktif. Termasuk juga kontraproduktif terhadap pemenangan paslon apabila timses tidak lihai dalam memainkan isu ini. Jadi menghilangkan prosa "parang kampuang tagak dikampuang" pada Pilkada Agam adalah pilihan yang cukup bijak untuk menghadirkan pemimpin terbaik di Agam.

Comments

Popular posts from this blog

Tan Malaka : Bapak Pendidikan yang Terlupakan

Pada abad ke-20 nama besar seperti Paolo Freire dan Ivan Illich terdengar nyaring di telinga kaum aktivis terutama para pemikir yang bergelut di bidang Pendidikan. Bagaimana tidak, kritikan kedua tokoh pendidikan aliran anarkisme ini begitu mengguncang dunia pendidikan. Nilai pendidikan yang selama ini diyakini mengandung nilai kebajikan justru dibalik itu semua terdapat bentuk-bentuk penindasan. Bahkan mereka berujar bahwa seringkali pendidikan dijadikan sebagai legitimasi bagi kelompok yang berkuasa untuk melakukan penindasan. Gagasan kedua tokoh ini benar-benar menyadarkan banyak orang bahwa pendidikan yang selama ini dianggap sakral ternyata menyajikan nilai-nilai dehumanisasi kehidupan. Fenomena pendidikan di atas ternyata jauh hari sudah dialami oleh bangsa Indonesia. Indonesia yang dijajah kurang lebih 350 tahun diwarnai oleh sistem pendidikan yang cenderung rasis atau berdasarkan kelas-kelas sosial. Dia lah Tan Malaka yang kemudian berjuang melawan imperialisme pen...

Senjata Memerangi Covid-19 : Sudah Siapkah Indonesia?

  Berangkat dari pengalaman penolakan masyarakat terhadap vaksin, timbul semacam kerisauan apakah akan terjadi juga penolakan terhadap vaksin covid-19? Apakah Indonesia sudah siap  menggunakan vaksin covid-19 untuk memerangi corona? Situasi kasus covid-19 di Indonesia dan dunia sangat mudah untuk diakses, baik itu melalui website resmi pemerintah (www.covid19.go.id) atau aplikasi whatsapp untuk Kemenkes RI (0811 3339 9000). Sampai tanggal 5 April 2020, tercatat sejumlah 209 negara/ kawasan terjangkit dengan 1.093.349 kasus terkonfirmasi dan 58.680 kematian. Sedangkan di Indonesia, tercatat 2.273 kasus terkonfirmasi; 164 sembuh dan 198 kematian.   Dalam beberapa waktu terakhir berdasarkan himbauan WHO, pemerintah Indonesia melalui Jubir Satgas Covid-19, Bapak Yurianto menghimbau agar masyarakat wajib menggunakan masker. Bahkan Gubernur DKI Jakarta, Bapak Anies Baswedan mewajibkan penggunaan masker bagi siapapun yang akan menggunakan alat transportasi umum (MRT)....

GEOHERITAGE TARUSAN KAMANG : JEJAK – JEJAK BATUAN LAUT PURBA KAMANG MENGUNGKAP CERITA TAMBO MINANG ??

JEJAK – JEJAK BATUAN LAUT PURBA KAMANG MENGUNGKAP CERITA TAMBO MINANG ?? Lokasi jejak – jejak batuan purba masih berada disekitar Kamang hingga perbatasan dengan daerah Baso, Kabupaten Agam, Provinsi Sumatera Barat. Berada di sekitar kelurusan sesar Semangko. Litologi yang di teliti di daerah ini adalah batu gambing terumbu / karbonat yang berumur perm- karbon. BATUAN LAUT KENAPA JADI BUKIT –BUKIT SEKARANG?? Karbonat ini terekspos atau tersingkap akibat dari uplifting dari tekanan tektonik Lempeng Eurasia dan Lempeng Hindia-Australia yang membuat fore arc di muka depan pulau Sumatera. Namun, sebagian ataupun spot-spot karbonat masih terangkat, seperti yang dilihat sekarang ini. Sesar Semangko yang dekstral ini memotong antara karbonat dan metamorf. Pada pengamatan lapangan batugamping ini memiliki rongga yang besar sehingga tampak stalagtite dan stalagmite. Serta lapangan ini belum terekspos keluar secara meluas. Tambo minang yang menjelaskan sumatera terlihat ...