Skip to main content

Antara Kucing dan Covid-19 : Sebuah Filosofi



Siapa yang tidak menyukai kucing, hewan yang lucu dan sangat menggemaskan. Pun Nabi kita Rasullullah SAW juga memelihara seekor kucing, yang dinamai muezza dan sangat disayangi oleh Beliau. Ketika ada kucing jalanan yang dipelihara, maka di rumah baru kucing tersebut, harus tersedia uang dan harus ada orang yang membelikan makanan, memberi makan dan minum, mengajak bermain, membersihkan kandang, mengobati saat sakit dan bahkan menguburkan jika mati. Setiap orang di rumah bisa melakukan bagian yang bisa mereka dilakukan, tanpa pamrih, tanpa pilih-pilih. Sehingga semua urusan si kucing tadi selesai dan terpenuhi.

Sama halnya dengan keadaan kita saat ini. Dimana kita dan hampir seluruh dunia sedang dihadapkan pada kondisi mewabahnya suatu penyakit; Covid-19 yang awalnya berasal dari Wuhan, China. Di Indonesia sendiri, pasien 1 dan 2 Covid-19 diumumkan oleh Presiden RI; Ir. Joko Widodo pada tanggal 2 Maret 2020. Berdasarkan data pasien Covid-19 di website resmi pemerintah; www.covid19.go.id sampai tanggal 4 April 2020, jumlah pasien mencapai 2092 (positif), 150 (sembuh) dan 191 (meninggal). Diprediksi jumlah tersebut akan terus bertambah dan tidak ada yang mengetahui secara pasti sampai kapan ini akan berakhir.

Apa hubungannya dengan kucing tadi? Urusan covid-19 bukan hanya menjadi pekerjaan Kementrian Kesehatan, tenaga medis dan paramedis serta jajaran lainnya yang terkait, tetapi juga membutuhkan kerjasama seluruh masyarakat/ warga negara yang tinggal dan berkehidupan di Indonesia. Banyak yang bisa kita lakukan untuk memperbaiki keadaan ini sebelum makin memburuk. Tidak harus turun langsung berhadapan dengan pasien. Setidaknya kita harus mengetahui dan pandai menempatkan diri dalam berbagai kondisi dan menyesuaikan dengan keadaan, apapun profesi/ pekerjaan kita.

Hal yang bisa kita lakukan yaitu: bantu pemerintah untuk menghentikan penyebaran Covid-19. Melakukan apa yang kita bisa, sekecil apapun. Biarlah tahun ini kita banyak mengalah. Mengalah untuk lebih sering #dirumahaja walaupun kadang bosan. Untuk yang sedang berada jauh dari kampung halaman, mengalah untuk sementara jauh dari keluarga dan tidak mudik dulu, bahkan melewati bulan ramadhan dan idul fitri di rantau.

Dengan adanya covid-19, masih ada hal positif yang bisa kita ambil. Ternyata dengan covid-19 ini, seluruh dunia menjadi sadar dan memahami akan pentingnya menjaga kebersihan diri dan lingkungan, dengan rajin cuci tangan, meningkatkan imunitas dengan menkonsumsi makanan bergizi dan mengetahui banyak hal tentang covid-19, seperti bagaimana cara penularannya dan pencegahannya agar tidak tertular.

Ternyata Indonesia masih punya banyak orang baik. Di media sosial, banyak orang-orang yang menyebarkan informasi yang konstruktif, pesan penuh semangat, aura positif dan doa untuk Indonesia agar selalu bangkit dan agar Covid-19 ini cepat berlalu. Di media sosial dengan mudahnya banyak ditemukan designer, perusahaan konveksi dan penjahit yang menerima permintaan pembuatan hazmat dengan harga sangat terjangkau bahkan tanpa biaya sepeserpun. Banyak artis, seniman, influencer yang membuka donasi bahkan menyumbang dengan uang pribadi yang jumlahnya tidak sedikit untuk fasilitas kesehatan yang kekurangan apd (alat Pelindung diri) dan perbekalan kesehatan lain (handsanitizer, multivitamin). Banyak kelompok masyarakat, yayasan, perorangan yang membagikan sembako gratis untuk masyarakat yang terdampak secara ekonomi.

Indonesia bisa!


Nofrianti, S. Farm,. Apt.

Apoteker,
 Puskesmas Mandiangin,Bukittinggi

Comments

Popular posts from this blog

Culture-Heritage Ranah Minang : Mengenal Filosofi dan Esensi Rangkiang di Rumah Gadang

Apabila berbicara tentang kehidupan masyarakat Minangkabau, kita menemukan beragam kearifan yang terkadang menunjukkan betapa tajamnya filosofi kebudayaan Minangkabau dalam menyelesaikan persoalan kehidupan. Di antara bentuk kebudayaan tersebut adalah pendirian Rangkiang di bagian depan Rumah Gadang. Rangking merupaka padi yang sengaja didirikan untuk menyimpan hasil panen pada satu musim dan biasanya difungsikan untuk berjaga-jaga. Dahulunya,sebagian besar masyarakat Minangkabau memang menerapkan sistim tanam yang menyesuaikan dengan musim, apalagi mayoritas lahan di Minangkabau adalah tadah hujan. Rangkiang berperan penting dalam menjaga persediaan selama musim kemarau atau setelah musim panen, serta juga bisa dijual sekiranya ada kebutuhan mendesak yang tidak dapat diduga-duga. Namun, semenjak perkembangan teknologi pertanian dan pesatnya pembanguan infrastruktur pertanian seperti irigasi, Rangkiang sudah tidak lagi difungsikan secara optimal. Masyarakat yang bisa be...

Inklusi Keuangan dan Milenial Asyik Bertransaksi Syariah

  picture source : Sindonews.com Indikator tercapainya inklusi keuangan adalah pada saat setiap masyarakat memiliki akses terhadap berbagai layanan keuangan formal, serta memperoleh benefit dari layanan keuangan tersebut secara optimal, sebagaimanan yang tertuang di dalam Peraturan Presiden No 82 tahun 2016. Selain itu, inklusi keuangan juga merupakan representasi dari kuatnya literasi keuangan masyarakat, sehingga implikasi lanjutan dari hal ini adalah meningkatnya kegiatan perekonomian dan tentunya tercepai kesejahteraan yang ideal. Karena begitu pentingnya inklusi keuangan ini, maka sesungguhnya layanan keuangan itu harus menyentuh segmen masyarakat yang memiliki potensi yang besar dan memberikan prospek pengembangan layanan keuangan yang berkelanjutan. Selain daripada itu, layanan keuangan yang dikembangkan adalah bentuk layanan yang memiliki risiko yang rendah serta memiliki ketahanan yang cukup terhadap krisis dan seperti yang   kita ketahui, layanan keuangan Syariah...

Covid-19, Agama, dan Politik : Tinjauan Filosofis Sifat Manusia Menuju Redanya Pandemi

Sikap optimis adalah perkara penting dalam hidup manusia yang menjadi sandaran dalam melanjutkan kehidupan. Sebagaimana yang kita ketahui bahwa manusia senantiasa membutuhkan energi positif untuk mempertahankan kehidupannya. Selain daripada itu, Optimistis yang merupakan energi positif ini mampu mengarahkan manusia untuk melakukan hal yang benar, serta menghindari sikap kesewenangan terhadap kebenaran itu sendiri. Sehingga, dengan sikap optimis ini manusia mampu mencapai hakikat kehidupan yang sesungguhnya. Berangkat dari hal tersebut, kita bawakan aspek pemikiran tersebut pada kondisi dunia saat ini yang tengah dirundung permasalahan besar yang belum menunjukkan tanda-tanda untuk reda. Ya! Persoalan Pandemi wabah virus covid-19 yang telah menyeret manusia pada rasa takut, kebingungan, dan kepanikan. Tercatat bahwa hingga saat ini, persentase kematian dari wabah ini pada tingkat dunia sudah mencapai 5%, meningkat dari kondisi di pertengah Maret yang masih berada di level 3...